Viralkan Saja

25/09/2023 1:25 am

Warteg, Bisnis Kuliner Lokal yang Tak Lekang oleh Waktu Halaman all


WARTEG (Warung Tegal) sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya (Ayodya, 2010).

Warteg merupakan salah satu usaha kuliner lokal berskala mikro yang menyediakan berbagai macam sajian makanan khas daerah Tegal dari Jawa Tengah dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat. Penyajiannya makanannya sangat sederhana, yaitu secara prasmanan atau dilayani dengan jenis makanan yang bervariasi mulai dari sayur hingga lauk. Tidak ada yang spesifik.

Umumnya, warteg buka dari pagi hingga malam hari, bahkan 24 jam sehari untuk menyediakan sarapan, makan siang, hingga makan malam dengan harga yang sangat bersahabat di kantong konsumen.

Baca juga: Siasati Kenaikan Harga BBM, Pengusaha Warteg: Tempe Jadi Setipis Kartu ATM

Awalnya, warteg dikelola masyarakat yang berasal dari tiga desa, yaitu Desa Sidapurna, Sidakaton, dan Krandon yang terletak di Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal kemudian berkembang menjadi bisnis kuliner lokal yang tersebar baik di dalam hingga di luar pulau Jawa.

Di samping motif ekonomi, menjamurnya warteg di berbagai daerah terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dikarenakan warteg sudah menjadi tradisi yang sudah dilakukan oleh generasi warga dari daerah itu.

Bagi warga Tegal, khususnya Desa Cabawan, budaya merantau dan usaha warteg di kota-kota besar, terutama Jakarta, sudah menjadi tradisi turun temurun karena kota-kota besar diromantisasi oleh mereka sebagai ruang untuk mengubah nasib menjadi lebih baik (Maria, 2005).

Berdasarkan data asosiasi warteg, setidaknya terdapat lebih dari 34.000 warteg yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya, belum lagi ribuan warteg lainnya yang belum atau tidak tercatat oleh institusi pemerintah maupun asosiasi swasta (Sugiana, et al, 2019).

Kehadiran warteg di ibu kota dimulai sejak tahun 1970-an dan diinisiasi oleh anggota komunitas yang berasal dari daerah Sidapurna dan Sidakaton, Tegal. Para pemiliknya kemudian bergabung dalam asosiasi Koperasi Warung Tegal atau Kowarteg untuk mengembangkan bisnis mereka di Jakarta.

Secara sosial budaya, warteg tidak hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, tetapi juga sebagai tempat banyak orang untuk saling bertukar berbagai informasi mulai dari hal-hal yang remeh temeh hingga perihal politik.

Romantisasi kesuksesan dalam konteks urban

Para pemilik warteg memiliki keterikatan sosial-budaya yang sangat kental dalam menjalankan usaha mereka, budaya saling membantu antar pemiliknya yang berasal dari daerah yang sama sangatlah kuat.

Budaya kekerabatan juga tercermin dari sistem kerja para pemilik warteg. Umumnya mereka mengelola wartegnya secara bergantian selama tiga bulan sekali, yang kemudian digilir dengan saudara atau kerabat lainnya.

Asytuti (2015) mengatakan, pedagang warteg terdahulu memiliki kontribusi besar dalam membantu para migran yang berasal dari Kota Tegal dan berencana membuka bisnis serupa.

Artinya, pedagang warteg baru akan dibantu pedagang yang sudah berpengalaman mulai dari pemilihan lokasi bisnis hingga modal awal sehingga keterikatan budaya inilah yang menjadi salah satu faktor kunci mengapa warteg banyak berkembang pesat di kota-kota besar.

Hal tersebut tentunya berdampak positif pada peningkatan pendapatan lokal dan secara langsung berkontribusi terhadap perubahan gaya hidup serta pertumbuhan ekonomi di desa. Cerita tentang kesuksesan mereka di kota besar kemudian menjadi daya pikat bagi warga Tegal untuk merantau ke kota besar dan akhirnya menjelma menjadi identitas kaum urban Tegal di Jakarta.

Baca juga: Penampakan Warteg Berdiri Kokoh di Antara Rumah-rumah yang Terbakar di Simprug Jaksel

Seiring waktu, kepemilikan warteg mengalami perubahan yang sebelumnya hanya dimiliki perorangan menjadi sebuah paguyuban untuk orang yang memiliki kekerabatan berdasarkan kampung halaman maupun tidak.

Dari hal ini, konsepsi tentang warteg memberikan gambaran akan kerja sama berbasis ekonomi yang mengandalkan nilai-nilai tertentu seperti pengertian, kesamaan konsepsi, dan motivasi serta nilai-nilai sosial lain seperti kepercayaan di antara pemiliknya.

Filosofi warteg

Warteg sangat mudah dikenali karena memiliki ciri khas tersendiri dari segi bagunan. Banguan warteg rata-rata berukuran 15-20 meter dan bercat biru yang menyimbolkan kampung halaman pemilik warteg, yaitu Kota Tegal yang merupakan daerah pesisir pantai atau simbol kelautan.

Penggunaan akronim warteg (Warung Tegal) dan pengusaha warteg telah memiliki identitas di daerah perkotaan yaitu sebagai warung pinggir jalan yang merujuk kepada usaha yang dijalankan pengusaha kecil.

Secara filosofis, warteg memiliki banyak makna simbolis. Misalnya, dua pintu yang terletak di sisi kanan dan kiri banguan yang menjadi ciri khas warteg pada umumnya memiliki arti tertentu. Budayawan asal Tegal Yono Daryono mengatakan bahwa simbol tersebut mengandung makna banyak rejeki.

Dari segi arsitektur, penempatan dua pintu di sisi kanan kiri bangunan dinilai efektif untuk mencegah antrean panjang pembeli karena karakterisik bangunan warteg yang tidak terlalu luas sehingga pemanfaatan lahan yang kecil sangat dipikirkan oleh mereka supaya pengunjung dapat keluar masuk warteg tanpa harus saling berdesakkan satu sama lain.

Tidak hanya itu, penggunaan lemari kaca untuk menempatkan berbagai jenis makanan yang ditawarkan warteg juga sangat memudahkan pembeli memilih makanan yang mereka suka, tanpa harus berpindah tempat yang berpotensi mengganggu pembeli lainnya.

Makanan yang disajikan pun identik dengan makanan khas pertanian lokal, seperti sayur lodeh, sayur asem, tempe orek, sayur daun singkong, sayur bayam, tumis kangkung, sambal. Yono Daryono mengatakan, hal itu merupakan hasil tani dan ladang masyarakat setempat yang dimasak dengan bumbu minimalis supaya harganya terjangkau.

Lalu, bangku panjang yang umumnya terdapat di depan lemari kaca untuk pengunjung yang ingin makan di tempat. Keberadaan bangkut  semacaram itu diartikan sebagai simbol kesetaraan (equality). Mereka yang datang dari berbagai kalangan dan kelas dapat saling berbincang-bincang tentang berbagai topik sambil menyantap hidangan warteg.

Dari konsep tradisional ke modern

Seiring perkembangan zaman, dari segi konsumen warteg juga telah mengalami pergeseran makna. Dulunya identik dengan kelas menengah bawah kini kerap dinikmati oleh semua golongan. Konsep bangunannya pun telah mengalami perubahan, khususnya dari segi warna bangunan, dari mulai biru, hijau, oranye, dan banyak lagi.

Baca juga: Mau Buka Warteg? Segini Modal yang Dibutuhkan dan Tips Memulainya

Tidak hanya itu, sebagai salah satu bisnis kuliner, warteg juga bisa dikatakan sebagai usaha yang tidak hilang termakan zaman. Bagaimana tidak? Bisnis yang awalnya dikelola oleh masyarakat secara sederhana kini telah menjelma sebagai gerai makanan dengan konsep franchise seperti restoran cepat saji McDonald dan KFC.

Kharisma Bahari adalah warteg berkonsep waralaba franchise di Indonesia yang dikelola oleh PT. Indomakmur Jaya Sukses (IJS). Warteg yang khas dengan bangunan berwarna hijau dan desain interior kekinian mirip restoran ini bahkan telah mendapatkan salah satu kategori penghargaan Top Franchise Business Opportunity pada tahun 2021.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Lihat Berita Asli

Leave a Comment